Upacara Penyambutan Tamu : Budaya Suku Dayak yang Sarat Makna

Benarkah ada tujuan dan makna magis di balik adat penyambutan tamu yang menjadi budaya suku Dayak? Simak faktanya di sini

Keunikan budaya suku Dayak di Borneo ternyata bukan dongeng semata. Saya sudah membuktikannya sendiri ketika mengunjungi dusun Silit di Kalimantan Barat sebulan lalu. Mereka benar-benar masih mempraktikkan ritual atau adat yang diwariskan oleh para leluhur.

Nah, salah satu adat yang paling menarik adalah upacara penyambutan tamu. Orang Dayak sangat menghargai dan menghormati para tamunya, lho. Karena itu, mereka mengadakan upacara nan sakral, penuh makna, dan perjamuan spesial.

Tujuan Upacara Penyambutan Tamu Suku Dayak—Dulu dan Sekarang

Menurut penjelasan tetua adat setempat, upacara penyambutan tamu suku Dayak sudah dilakukan sejak masa nenek moyang. Kepala adat, anak-anak, hingga orang dewasa menyambut kehadiran para pendatang dengan ramah dan meriah. Alunan musik dan iringan doa-doa berbahasa lokal senantiasa mengalir di sepanjang acara.

Dulu, ritual ini bertujuan untuk menyambut kedatangan kawan, saudara, atau kerabat yang memenangkan perang. Namun kini, upacara diadakan sebagai bentuk penerimaan atas kedatangan tamu kehormatan, semisal menteri, presiden, atau pejabat dari luar daerah Kalimantan. Seluruh rangkaian adat dalam upacara wajib dilakukan agar tamu dilindungi dari segala marabahaya.

Dusun Silit—Salah Satu Daerah di Kalimantan dengan Adat Penyambutan Tamu yang Khas

Sebelum membahas proses penyambutan tamu, saya ingin bercerita tentang sejarah dusun Silit yang unik. Dahulu kala, di pedalaman Kalimantan Barat, terdapat sebuah kampung yang sebagian besar penghuninya merupakan suku Dayak Seberuang. Kampung itu terletak di Kecamatan Sepauk.

Tahun 1982, kampung tersebut bertransformasi menjadi desa Nanga Pari. Karena jumlah penduduk semakin banyak, desa Nanga Pari pun dibagi tiga dusun. Salah satunya adalah dusun Silit.

Alam dusun Silit masih hijau dan asri. Hutannya dipenuhi pepohonan besar dan dihuni aneka satwa. Bukit-bukit menjulang; mengelilingi kawasan dusun Silit. Sungai jernih mengalir deras; melewati dusun Silit. Kekayaan alam inilah yang menjadi sumber penghidupan bagi penduduknya.

Mereka berburu babi hutan dan berladang secara nomaden. Namun sekarang kebiasaan tersebut sudah dilarang oleh pemerintah. Pasalnya, bisa merusak ekosistem hutan di sekitar dusun Silit.

Untuk menuju ke dusun Silit, para pendatang harus mengawali perjalanan dengan naik pesawat dari Pontianak menuju kabupaten Sintang selama 40 menit. Setelah tiba di sana, dilanjutkan naik mobil carteran sampai ke dusun Silit. Kalau tidak ada kendala, perjalanan hanya memakan waktu tiga jam.

Tata Upacara Penyambutan Tamu Suku Dayak

Sekarang, saya akan ceritakan bagaimana tata upacara penyambutan tamu suku Dayak. Kedatangan kami ke sana untuk meliput dan mengambil gambar keadaan dusun dan potensi wisata yang ada. Dari kejauhan, kami melihat sebuah buluh atau bambu melintang di depan gapura desa. Di lokasi tersebut juga tampak barisan orang dengan busana tradisional Kalimantan yang siap menyuguhkan tarian.

Ketika rombongan kami mendekat, kepala adat segera meminta untuk berhenti di luar gerbang. Mulai saat itulah, para tamu harus melewati serangkaian ritual atau upacara penyambutan dengan urutan berikut ini.

  1. Potong Pantan—Ritual untuk Membuka Pagar Magis

Pantan berarti rintangan atau penghalang; ini disimbolkan dengan sebuah bambu yang melintang di gerbang masuk. Bambu tersebut dilapisi kain panjang. Tamu harus menggulung kain; sebagian dari arah kiri, sisanya mulai dari kanan.

Setelah kain tergulung sempurna, kepala adat membacakan doa (mantra). Kemudian beliau menyerahkan mandau kepada salah seorang perwakilan tamu untuk memotong pantan. Orang Dayak percaya, seseorang yang mampu mematahkan pantan dengan sekali tebas akan dilindungi dari gangguan ruh jahat, bebas rintangan, serta diberikan keselamatan.

Sebaliknya, kalau lebih dari sekali tebas, kepala adat wajib menanyakan tujuan tamu datang ke daerah tersebut. Tamu pun harus menjawab dengan jujur tentang maksud kehadirannya. Setelah itu, kepala adat kembali mempersilakan tamu untuk meneruskan pemotongan pantan—sampai patah menjadi dua.

  1. Melengkapi Sesajen dengan Darah Ayam

Usai ritual pemotongan pantan, kepala adat mempersembahkan seekor ayam untuk ditusuk lehernya. Prosesi ini diikuti dengan lantuan doa-doa dari sang kepala adat. Semula saya bingung dengan makna doa-doa itu karena tidak bisa berbahasa Dayak. Tapi karena sesekali kepala adat menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, setidaknya saya cukup paham maksudnya.

Kemudian, darah ayam tersebut diletakkan pada sebuah nampan berisi sesajen. Adapun isi sesajen meliputi :

  • telur ayam : digunakan sebagai sarana komunikasi dan sosialisasi kepada sesama umat manusia dan Sang Pencipta;
  • batu : untuk menghindarkan dari berbagai macam gangguan.
  • beras ketan : melambangkan perlawanan terhadap hal-hal negatif; menjauhkan diri dari bahaya; simbol kemurnian hati.
  1. Menginjak Telur dan Menghabiskan Jamuan

Ritual ketiga yang harus dilakukan tamu adalah menginjak telur ayam. Proses tersebut diiringi doa dari kepala adat. Setelah itu, kepala adat memberikan tuak kepada tamu. Konon, minuman tuak wajib diminum sampai habis karena pamali kalau masih ada sisanya.

Ritual ketiga diakhiri dengan saling bersalaman antara tamu, kepala adat, dan orang-orang yang menyambutnya. Kemudian, tamu dipersilahkan berjalan menuju rumah kepala adat; diiringi alunan musik dan tarian.

Itulah sekelumit pengalaman saya saat mengunjungi dusun Silit di Kalimantan Barat. Upacara penyambutan tamu hanyalah salah satu dari sekian banyak budaya suku Dayak yang dilestarikan. Meski begitu, setiap ritual dan sesajennya mampu membius mata siapa pun yang menyaksikan.

error: Content is protected !!