Upacara Kikir Gigi Suku Dayak, Ritual Kedewasaan dalam Budaya Kalimantan

Upacara kikir gigi merupakan budaya Kalimantan yang menandakan kedewasaan seorang perempuan dari suku Dayak

Select language : enEnglish

Kalau Bali memiliki tradisi meratakan gigi yang disebut metatah, di Kalimantan terdapat adat bepapar. Saat traveling akhir tahun lalu, saya menyaksikan sendiri proses ritual kikir gigi di dusun Silit Kalimantan Barat. Menurut kepala adat setempat, upacara kikir gigi sudah ada sejak zaman nenek moyang. Pelaku budaya Kalimantan tersebut adalah perempuan dari kalangan suku Dayak yang beranjak dewasa. Mereka mengawali ritual dengan doa, sesajen, dan pesta adat.

Lalu, Bagaimana Menuju Lokasi Dusun Silit?

Dusun Silit terletak di Kecamatan Sepauk, tepatnya di pedalaman Kalimantan Barat. Untuk mencapai lokasi tersebut, saya menyewa mobil carteran dari Kabupaten Sintang. Menurut keterangan Driver, perjalanan ke dusun Silit hanya tiga jam jika jalan dalam kondisi baik. Medan jalan dusun Silit cukup susah dilewati. Lintasan dari Sintang sampai pertigaan Simpang Kayu sudah dilapisi aspal. Sementara jalan sesudah Simpang Kayu hingga ke dusun Silit masih berupa tanah kuning dan bebatuan. Untungnya, mobil ini bertipe 4 x 4 sehingga bisa melintasi berbagai jenis jalan ; termasuk yang becek atau berlumpur.

Dusun Silit dulunya sebuah perkampungan yang dipimpin oleh remang (kepala suku). Setelah kepala suku meninggal dunia—tahun 1982—kampung itu berubah menjadi desa Nanga Pari. Kemudian, desa tersebut terbagi tiga dusun—salah satunya dusun Silit. Alam dusun Silit didominasi hutan dan perbukitan. Pohon-pohon besar tumbuh subur di daerah tersebut. Sungainya jernih, bersih, serta mengalir lancar ke seluruh penjuru dusun. Tidak hanya itu, ekosistem hutan di dusun Silit juga menjadi habitat bagi satwa endemik.

Kondisi alam yang demikian, rupanya membawa keberuntungan untuk suku Dayak di dusun Silit. Mereka mudah mendapatkan hewan buruan dan tempat berladang. Meski begitu, kegiatan berladang mulai berkurang karena ada larangan dari pemerintah. Berladang dianggap sebagai aktivitas yang bisa merusak alam. Dusun Silit juga terkenal dengan aneka kerajinan anyaman yang mulai berkembang. Bermula hanya untuk keperluan sehari-hari, kerajinan anyaman akhirnya menjadi souvenir khas kalimantan yang mempunyai ornamen berbeda.

Kikir Gigi, Lebih dari Sekadar Simbol Kecantikan

Dalam perjalanan, saya sempat bertanya kepada driver tentang tujuan adat kikir gigi di Kalimantan. Dia mengatakan bahwa di masa sekarang, banyak orang yang melakukan kikir gigi untuk mempercantik diri. Padahal bagi suku Dayak, bukan itu makna sebenarnya. Perempuan yang sudah melewati ritual tersebut berarti dianggap sudah dewasa. Ia berhak menentukan dan memutuskan arah hidupnya.

Selain makna upacara kikir gigi, driver juga menjelaskan mengenai proses kikir gigi secara singkat. Dari ceritanya, saya jadi tahu ; ada batu khusus yang digunakan untuk meratakan gigi. Mereka memakai dua buah pinang atau saputangan sebagai penahan geraham dan bibir saat ritual dilakukan.

Kikir Gigi Suku Dayak—Setiap Upacaranya Penuh Makna

Tepat tiga jam lewat dua puluh menit, saya tiba di dusun Silit. Kebetulan sekali saat sampai di sana kepala adat dan warga sudah berkumpul untuk bersiap melakukan upacara kikir gigi. Tak lama, ritual—yang diawali dengan permintaan dari orang tua si perempuan—pun dimulai.

  1. Pertama, kepala adat mengumpulkan seluruh warga di titik tertentu dengan bentuk barisan melingkari perempuan yang akan dikikir giginya. Kemudian, kepala adat memberikan sambutan, dilanjutkan oleh perwakilan keluarga penyelenggara.
  2. Selanjutnya, kepala adat memimpin doa sesuai kepercayaan di desa tersebut. Doa dirapalkan dalam bahasa lokal.
  3. Usai berdoa, kepala adat membuka sesajen yang sudah disiapkan sebelumnya. Sesajen tersebut terdiri dari paha ayam, makanan lemang (beras ketan), dan batu yang dibungkus kain. Selain itu, disuguhkan juga minuman tuak (tuak suling) dalam tempayan besar.
  4. Gadis yang melaksanakan upacara kikir gigi menyantap paha ayam dan lemang. Setelah semuanya habis, si gadis berbaring di tengah warga yang mengelilingi dengan beralaskan kain pembungkus sesajen.
  5. Kepala adat mulai mengikir gigi gadis tersebut dengan menggunakan batu yang disediakan dalam sesajen.
  6. Usai acara kikir gigi, gadis itu meminum tuak memakai cawan kecil. Proses minum dilakukan hingga tiga kali diiringi doa-doa atau mantra dari kepala adat. Saat itu, kepala adat juga mengibaskan ampas padi yang dibakar api seraya mengelilingi tempayan tuak.
  7. Acara berikutnya adalah minum tuak suling yang dilakukan oleh kepala adat—kemudian dilanjutkan warga. Tuak tersebut diminum dengan cara berpasangan; 1 laki-laki dan 1 perempuan. Sedikit berbeda dengan upacara penyambutan tamu, tuak yang disajikan dalam upacara kikir gigi adalah tuak suling. Tuak disiapkan dalam tempayan, lalu diminum memakai sedotan. Uniknya, setiap kali akan meminum tuak, selalu ditambahkan segelas air putih ukuran gelas sedang ke dalam tempayan. Itu pun harus langsung habis; sebab kalau ada tersisa, airnya pasti ditambah lagi.
  8. Rangkaian acara kikir gigi tersebut diakhiri dengan ramah tamah. Warga yang hadir, kepala adat, dan pihak keluarga saling bersalaman. Kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing.

Itulah rangkaian upacara kikir gigi suku Dayak yang saya saksikan ketika liburan ke dusun Silit. Keunikan budaya Kalimantan ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi para wisatawan. Anda penasaran dengan tradisi tersebut? Yuk, kunjungi Borneo!

error: Content is protected !!