Ritual Bejanih, Adat Kalimantan Barat yang Sarat Hikmah dan Pendidikan

Bejanih lebih dari sekadar adat Kalimantan, tetapi juga memberikan banyak pelajaran tentang kehidupan.

Berbicara soal Borneo tentu nggak ada habisnya. Pulau ini selalu punya pesona yang membuat orang berdecak kagum—termasuk saya. Bulan juli tahun lalu, selama 2 bulan lebih saya habiskan waktu berkeliling di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat; tepatnya di desa Ensaid Panjang.

Lalu, mengapa saya pilih Ensaid Panjang? Ada dua alasan; pertama karena adat Kalimantan di sini masih sangat kental. Alasan kedua; saya ingin melihat ritual bejanih yang disebut-sebut memiliki daya spiritual jika dilakukan. Tentunya semua ini saya search di google dulu guys…., jadi gak asal pergi.

Tapi, sebelum membahas ritual bejanih saya akan ceritakan dulu tentang Ensaid Panjang dan akses menuju ke sana. Jadi, Ensaid Panjang ini merupakan bagian Kabupaten Sintang yang lokasinya berada di sebelah timur ibu kota Kecamatan Kelam Permai. Berada di sekitar kaki bukit kelam yang merupakan bukit batu raksasa terbesar di dunia.

Saya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta menggunakan pesawat Sriwijaya Air menuju Bandara Supadio, Pontianak. Kemudian penerbangan dilanjutkan dengan naik pesawat garuda ke Bandara Susilo di Kabupaten Sintang. Nah, berawal dari Kabupaten Sintang inilah saya menyewa kendaraan roda empat untuk meneruskan traveling ke Ensaid Panjang.

Sepanjang jalan menuju Ensaid Panjang didominasi lahan kosong yang ditumbuhi ilalang yang lebat, sawah yang luas dan perbukitan. Semula, medan jalan yang saya lewati baik-baik saja; mulus dan lancar. Tapi, lambat laun jalan terasa bergelombang. Sesekali ban mobil masuk ke lumpur atau melindas bebatuan. Rupanya kontur jalan ke Ensaid Panjang ini masih berupa tanah kuning. Rawan becek jika terkena air hujan, bahkan cuma gerimis saja.

Kurang lebih dua jam perjalanan akhirnya saya tiba di Ensaid Panjang. Perjalanan yang melelahkan pun terbayar dengan sambutan penuh keramahan dari penduduk lokal.

Kalau kamu ingin mengunjungi Rumah betang Ensaid Panjang, kamu bisa Email : colouringindonesia@gmail.com untuk keterangan lebih lanjut

Bermalam di Rumah Betang—Antara Tradisi dan Modernisasi

Selama di Ensaid Panjang, saya tinggal di Rumah Betang—tempat tinggal tradisional suku Dayak Desa. Awalnya sempat saya canggung berkomunikasi dengan penduduk setempat karena sebagian besar kurang lancar berbahasa Indonesia. Tapi, untungnya ada tetua adat (kepala adat) yang bisa menjadi penerjemah bahasa.

Tradisi tinggal di Rumah Betang ternyata sudah dilakukan secara turun-temurun. Bentuk Rumah Betang ini memanjang; kurang lebih 118 meter dengan lebar 17 meter. Uniknya, bangunan berbentuk panggung tersebut dihuni oleh 22 kepala keluarga.

Interior Rumah Betang terdiri dari beberapa bagian, yakni ruang tamu, ruang keluarga, bilik serambi (kamar), serta bilik tingka (dapur). Sebagai pemisah ruangan antarkeluarga, digunakan papan kayu. Selain itu ada juga ruai yang letaknya paling depan. Di ruai inilah para tamu disambut dan dijamu oleh pemilik rumah.

Dari luar, Rumah Betang terlihat sarat nuansa tradisional—berdinding kayu papan dan beratap sirap dari kayu ulin. Saya pikir di dalam hunian ini hanya berisi perkakas atau furnitur khas etnik. Tapi dugaan saya meleset; Rumah Betang disini sudah memiliki parabola. Artinya, ada televisi disana. Keren, ya?

Bejanih—Ritual Paling Berkesan di Rumah Betang

Selama tinggal di Rumah Betang saya boleh menyaksikan seluruh adat suku Dayak Desa. Uniknya, tetua adat ataupun penduduk setempat tidak memungut biaya dari wisatawan yang datang.

Salah satu adat yang bikin saya penasaran adalah bejanih. Sebenarnya bejanih bukan ritual dengan pakem atau aturan tersendiri. Tradisi tersebut bisa dilakukan di sela acara pernikahan, gawai Dayak, maupun di lingkungan Rumah Betang. Biasanya bejanih dipimpin oleh kepala adat.

Lalu, apa sih bejanih itu? Bejanih sama halnya seperti kegiatan mendongeng biasa di Jawa. Namun ada yang membedakan antara aktivitas mendongeng dan bejanih. Pertama, dari jenis cerita—tetua adat biasanya mengisahkan tentang hikayat cerita rakyat Kalimantan.

Kedua, sebelum ritual tersebut dilakukan tetua adat menyipakan sesajen. Sesajen ini dimasak oleh ibu-ibu dan dipersiapkan sesuai jumlah yang datang. Pas lihat isi sesajennya, saya terkesan—ada ceker ayam, lemang, kopi, serta tuak. Sesajen itu bukan hanya untuk dilihat, lho; tetapi juga untuk disantap bersama.

Meski nantinya dimakan bersama, sesajen tersebut juga sarat makna. Misalnya lemang yang berbahan beras ketan; melambangkan kesucian hati dan menghindarkan diri dari hal negatif. Kemudian tuak, menyimbolkan persaudaraan, kehangatan, serta persaudaraan dalam suku Dayak.

Jadi jelas ya? Bejanih adalah kegiatan mendongeng yang bisa dipraktikkan kapan pun. Bahkan, ibu-ibu penenun kain biasa melakukannya untuk menidurkan anak-anak di malam hari. Para bapak juga kerap mendengarkan tetua adat mendongeng (bejanih) di sela pertemuan.

Saya mengikuti ritual bejanih ini dari awal hingga akhir. Pertama, tetua adat membuka bejanih dengan bercerita tentang hikayat suku Dayak. Ceritanya mengalir begitu saja; tanpa membaca teks atau menghafal terlebih dahulu. Sesekali beliau juga bercanda agar tidak bosan. Di sela-sela kisah, tetua adat menyelipkan doa-doa dalam bahasa suku Dayak.

Awalnya saya bingung dengan makna doa-doa itu karena nggak tahu artinya. Jadi walaupun beliau becanda, sayapun nggak paham. Saya hanya melihat mereka tertawa tanpa tau artinya. Untungnya, tetua adat sesekali menjelaskan isi doa tersebut dalam bahasa Indonesia. Intinya berisi tentang permohonan agar masyarakat senantiasa hidup makmur dan menjaga kelestarian alam.

Yes, tidak lebih dari dua jam, tetua adat mengakhiri dongengnya. Setelah itu semua tamu dipersilakan untuk menyantap hidangan yang disajikan seraya mengobrol.

Bagaimana? Ritual bejanih sangat menarik, kan? Selain memperkaya wawasan kita tentang adat Kalimantan, pun banyak hikmah yang bisa diambil dari bejanih tetua adat.

error: Content is protected !!