Panorama Embung Batara Sriten

Menikmati indahnya panorama Embung Batara Sriten bisa dilakukan dalam berbagai cara. Duduk-duduk di Gazebo sambil menikmati semilir angin mungkin lebih cocok buat kamu yang datang bersama pasangan. Membicarakan rencana pernikahan, atau apalah… Bagi yang datang bersama para sahabat, sepertinya lebih cocok kalau nongkrong di warung kaki lima di sekitar embung sambil ngopi dan bercanda-tawa. Untuk family, ayah – ibu dan anak-anak, menggelar tikar dan menyantap perbekalan makan siang dibawah rindangnya pohon sepertinya pas untuk mengisi kegiatan diakhir minggu. Dan bagi kamu yang jomblo, muda-mudi stress, atau seseorang yang ingin menyendiri, tempat ini menjadi pilihan yang tepat untuk berpikir. Dalam ayunan hammock yang terpasang di sela-sela pohon ikonik, nuansa teduh dan udara yang segar sepertinya mampu mencairkan kegundahan hatimu yang berlarut-larut

Embung Batara Sriten adalah sebuah Telaga buatan yang berada di puncak Gunung Kidul. Percaya atau tidak, walaupun matahari bersinar terang, suhu di kawasan ini tetap saja sejuk. Angin yang berhembus perlahan menambah keadaan menjadi lebih dingin. Sebuah pemandangan yang cukup aneh ketika kita melihat semua orang yang berada di tempat ini memakai jaket, sementara kondisi cuaca cerah dengan awan putih yang megah di atas sana. Mirip suasana di Eropa gitu… (haisshh)

Embung Sriten

Saat pertama kali mendengar nama Batara Sriten, terlintas dalam bayangan seperti sosok seorang Dewa di Khayangan dalam lakon pewayangan. Tinggal di sebuah negeri dongeng di dataran tinggi yang diibaratkan sebagai surgaloka tempat dewi-dewi cantik bertahta. Namun ternyata, sebutan Batara Sriten diberikan karena lokasi telaga ini berada di Pegunungan Baturagung Utara yang disingkat menjadi Batara, dan berada di wilayah Padukuhan Sriten. Ya, itulah maksudnya. Kawasan pegunungan Baturagung Utara tak jauh berbeda dengan kawasan kabupaten Gunungkidul lainnya. Berupa pegunungan karst tandus yang seringkali dilanda kekeringan dikala musim kemarau tiba. Embung Batara Sriten yang merupakan telaga buatan ibaratnya seperti bak tandon air. Dibangun diatas ketinggian 800 mdpl dengan kapasitas kurang lebih 10 ribu meter kubik yang berfungsi untuk menampung air ketika hujan. Selain untuk mencegah kelangkaan air di musim kemarau, kawasan ini akhirnya dikembangkan menjadi lahan agrowisata buah yang berada di sekitarnya

Sejenak setelah sampai di tempat ini, saya merasa berada diatas awan. Garis lengkung bumi jelas terlihat dari tempat ini. Epic! Jujur saja saya terkesan dengan siapapun yang mendesain tempat wisata ini. Bukan karena arsitekturnya yang indah menawan, tetapi ide untuk membuat sebuah telaga buatan di ketinggian seperti ini selain bermanfaat juga mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Para photographer menjadikan tempat ini sebagai ajang untuk hunting sunset. Memang indah sih… Dan sepertinya tidak perlu peralatan canggih karena sunset di tempat ini memang menawan. Warna orange kemerahan terpantul dari permukaan air telaga dikala senja. Dengan background bukit-bukit dan gumpalan awan, matahari kemudian berangsur tenggelam di batas lengkung bumi. Siapin kamera deh… jangan lupa pake tripod ya?

Embung Batara Sriten

Rute menuju Lokasi

Secara garis besar, dari Kota Yogyakarta menuju lokasi Embung Batara Sriten kamu bisa melalui rute : Jogja » Jl. Wonosari » Piyungan » Bukit Patuk atau Bukit Bintang » Pertigaan Sambipitu ke kiri menuju arah Nglipar » Perkebunan Hutan Kayu Putih » Pertigaan sebelum Pasar Nglipar ke kiri » Jalan Nglipar-Ngawen » Kedungpoh » Pertigaan timur Kantor Kepala Desa Pilangrejo tepatnya Jl. Nglipar-Ngawen Km. 6,5 ke kiri » ikuti jalan aspal dan cor blok sambil lihat penunjuk arah ke Embung Batara Sriten dan Perbukitan Baturagung (Puncak Tertinggi Gunungkidul)


Kalau kamu berencana liburan ke Yogyakarta kamu bisa Email : info@colouringindonesia.com atau menggunakan jasa Yogyakarta Personal Guide

embung-sriten

Akses jalan

Siap-siap jantungan! Jalanan menuju lokasi Embung Batara Sriten cukup sempit dengan kondisi jalan yang menanjak dan banyak tikungan berbahaya. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kondisi jalanan ini tidak semuanya di aspal dan banyak yang rusak di beberapa bagian. Pada rute awal, kamu akan dihadapkan pada tanjakan-tanjakan yang sedang tetapi panjang. Setelah itu dilanjutkan dengan tanjakan curam dengan tikungan-tikungan extreme yang cukup berbahaya. Lumayan serem sih… Saya sempat beberapa kali harus menahan nafas karena tegang. Terutama karena kondisi jalan yang sempit dan sangat riskan jika harus berpapasan dengan mobil dari depan. Setelah beberapa kilometer, berikutnya adalah jalan berbatu kapur kurang lebih sepanjang 6 km sampai menuju halaman parkir. Asli bisa ngrusak suspensi kendaraan. Batuan kapur ini cukup terjal dan menanjak. Saran saya, jangan menggunakan mobil/motor matic. Dengan kondisi jalan yang rusak seperti itu diperlukan kendaraan yang prima dan sopir yang berpengalaman.

Tips

Bawalah jaket. Walau matahari bersinar terang, suhu udara lama-lama terasa dingin karena angin berhembus cukup kencang

Share
error: Content is protected !!