Menyusuri sungai Kapuas

Konon sungai Kapuas adalah tempat yang indah. Walau kini wajahnya telah banyak berubah, namun cerita kehidupan itu masih melekat disana. Menjadi penyokong urat nadi bagi penghidupan masyarakat sekitar yang kian hari makin teriris

Menyusuri sungai Kapuas dengan menggunakan perahu merupakan kegiatan yang cukup menarik untuk melewatkan sore yang teduh. Saat mentari condong ke arah barat searah dengan arus sungai, kemilau cahaya-nya memantul terang seperti membentuk perlintasan di permukaan air. Perahu-pun berjalan lamban. Memberi kesempatan kepada kita untuk mengenal beragam cerita masyarakat yang hidup di sepanjang tepi sungai. Tak perlu juru bicara. Karena pemandangan yang kamu lihat itu akan bercerita dengan sendirinya.

kapuas

Sepintas, Sungai Kapuas tidak jauh berbeda dengan sungai-sungai yang ada di Indonesia. Sungai yang panjangnya mencapai 1.143 km ini menghubungkan satu wilayah dengan yang lain, mulai dari daerah pesisir sampai ke pedalaman Putussibau yang berbatasan dengan Malaysia. Yang istimewa dari sungai Kapuas adalah menjadi sejarah awal mula peradaban masyarakat di Kalimantan Barat. Sungai terpanjang di Indonesia ini memberikan kontribusi besar bagi urat nadi kehidupan masyarakat suku Dayak dan Melayu yang hidup di sepanjang aliran sungai. Pada zaman dahulu, masyarakat Kalimantan Barat memanfaatkan sungai ini sebagai salah satu sumber kehidupan, penopang perekonomian dan  menjadi jalur transportasi utama. Di bagian hilirnya dibangun pelabuhan-pelabuhan besar, sebagai tempat bongkar muat barang baik dari, maupun keluar Kalbar. Yang lebih mengesankan, di sungai Kapuas ini pernah hidup populasi ikan arwana yang saat ini disahkan sebagai satwa endemik. Ikan arwana kini memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Tak heran jika ikan yang dikenal dengan sebutan dragon fish ini mendunia.

Menyusuri sungai Kapuas di Sintang – Kalimantan Barat mempunyai cerita yang sama seperti di tepian sungai Kapuas yang lain. Kegiatan ekonomi, kehidupan sehari-hari, sampai tempat nongkrong yang nyaman untuk sekedar bersosialita. Sebelum senja mulai meredup, muda-mudi mulai berdatangan ke lokasi-lokasi jajanan yang berderet sejajar membentuk kelompok. Menawarkan bermacam-macam makanan ringan dan minuman hangat sebagai kudapan di sore hari. Meski sederhana, tak urung banyak juga peminat yang datang. Mereka datang bukan bicara bisnis, bukan juga soal pekerjaan. Keceriaan di wajah mereka adalah cerminan cerita yang sesungguhnya. Tepian sungai Kapuas merupakan tempat yang pas untuk berbagi. Walau nyatanya kehidupan tak seindah harapan, tetapi dalam hati tetap mensyukuri

Share
error: Content is protected !!