Mendaki terjalnya Bukit Kelam

Mendaki bukit batu raksasa rasanya sama saja seperti naik ke atap rumah lalu duduk nongkrong di ujung genteng. Berdiam diri menikmati silir angin yang menerpa nurani, dalam hening malam bertabur bintang ditepian tebing curam dan jurang yang menganga

Menyebut nama Bukit Kelam memang tidak popular dikalangan para traveler maupun Kelompok Pecinta Alam. Selain tempatnya yang jauh di luar Jawa, promosi Pariwisata Bukit Kelam rupanya memang belum digarap sepenuhnya oleh Pemerintah Daerah. Sungguh sayang, jadi wajar saja jika belum banyak orang yang tau. Bila kamu pergi ke pinggiran sungai Kapuas di Kabupaten Sintang, duduk santai menikmati senja sembari minum kopi, kamu akan melihat di kejauhan sana terdapat sebuah bukit menjulang yang menjadi latar belakang pemandangan di depan matamu. Aliran sungai Kapuas yang tenang, perahu nelayan yang hilir mudik dan tepat di ujung sana, Bukit Kelam dengan background langit yang merona merah berdiri tegak dibatas garis horizon. Kamu tau stereotype lukisan anak SD? Gunung, matahari, burung yang terbang dan sungai yang melintang… Nah, mungkin seperti itulah gambarannya.

Sungai kapuas

Bukit Kelam terletak di Kabupaten Sintang – Kalimantan Barat. Berjarak kurang lebih 30 km dari pusat kota dan dapat ditempuh dalam waktu 1 jam perjalanan dengan menggunakan motor/mobil. Ada sesuatu yang unik dan istimewa dari Bukit Kelam ini. Selain mitos dan cerita legenda yang melekat pada awal mula terbentuknya, bukit kelam pada kenyataannya adalah sebuah bongkahan batu monolit raksasa yang terbesar di dunia. Wow, heran kan? Kenapa ga terkenal ya? Masih jauh terkenal Ayers Rock di Benua Australia walau dimensinya sedikit lebih kecil. Bisa kamu bayangkan batu sebesar itu teronggok dan berdiri tegak di sebuah padang yang luas dikelilingi sawah. Pemandangan yang Eksotis-kah? Tentu…

Dengan ketinggian 990 mdpl bukit Kelam membuka diri bagi para pencinta alam untuk mendaki puncaknya. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mencapai puncak, yaitu melalui rangkaian tangga besi yang berada di sisi barat, atau bagi yang hobi panjat tebing silahkan mencoba menu tebing batu yang berdiri tegak hampir 90 derajat di sebelah selatan. Keduanya merupakan jalur extreme! Dan itu sungguh menantang diri sekaligus menyiutkan nyali. Bagi kamu yang belum terbiasa mendaki gunung, diperlukan waktu lebih dari 4 jam untuk sampai ke puncak. Kondisi trek 90% adalah bebatuan yang cukup licin dan terus mendaki sampai akhir hayat. Jika memang ada jalanan mendatar, paling cuma 5-10 meter untuk melepas lelah.

pendakian-bukit-kelam

Secara keseluruhan ada 4 lokasi tangga besi yang harus kamu lalui untuk menuju puncak. Sebut saja tangga pertama, tangga kedua, ketiga dan ke-empat. Masing-masing tangga mempunyai tinggi yang bervariasi mulai dari 15 meter hingga 90 meter dengan kemiringan antara 60 derajat sampai tegak lurus 90 derajat. Ngeri? Yap… Kalau kamu mendongak ke atas, ujungnya-pun kadang ada yang tak terlihat. Serem ya? Butuh nyali besar untuk bisa melewatinya.

Di setiap ketinggian 4 meter disediakan tempat untuk berhenti yang pijakannya terbuat dari kayu. Namun sayang, banyak kayu yang sudah hilang akibat keropos karena cuaca. Jadi yang mestinya tempat pemberhentian, kondisinya malah lebih membuat jantung berdebar karena tidak ada tempat untuk berpijak. Empat lokasi tangga besi yang merupakan jalur utama bagi para pendaki ini keadaannya memang tidak terawat. Hampir semuanya rusak karena sudah berumur lebih dari 20 tahun tetapi tidak pernah sekalipun diganti. Banyak korosi dimana-mana dan baut yang menancap di dinding batu juga banyak yang hilang. Akibatnya tangga besi tak lagi kokoh, tapi bergetar ketika kaki-kaki kita melangkah naik. Berdoalah.., mungkin itu satu-satunya jalan agar kita merasa safety.

Baca juga artikel kami tentang wisata gunung bromo

Terlepas dari jalur pendakian yang sulit, Bukit Kelam memang menawarkan sebuah kemewahan alam yang luar biasa. Pohon berbatang tinggi banyak mendominasi area bagian bawah dan tumbuhan semak belukar berada di atas. Selain terdapat air terjun yang merupakan sumber mata air bagi penduduk setempat untuk mengairi sawah, bukit Kelam menyimpan beberapa tumbuhan langka seperi Kantong Semar. Dan jika beruntung, para pendaki juga bisa melihat Anggrek Hitam yang sedang mekar. Ribuan burung wallet bersarang di goa-goa alam di sekitar puncak. Di lokasi yang terjal, tepat dipinggiran tebing curam yang langsung berhadapan dengan jurang. Dari puncak Bukit Kelam kamu bisa melihat hamparan hijau yang luas dibawah sana. Penorama yang indah khas Kalimantan. View sunset bisa kita nikmati tepat di jalur pendakian. Setelah naik lokasi tangga besi ketiga, ada space yang cukup lega untuk melihat sunset dari tempat ini. Gradasi warna orange matahari dan biru-nya langit Kalimantan dipadu dengan warna hijau yang terbentang luas sampai batas lengkung bumi menjadikan sunset kali ini agak sedikit berbeda. Sebuah kolaborasi warna yang tak lazim tapi tetap menarik untuk diabadikan.

panorama-bukit-kelam

Bila kamu mendirikan tenda di puncak bukit Kelam, malam nanti jika cuaca cerah, gelapnya malam tidak begitu pekat menyelimuti area sekitar. Remang sinar bulan walaupun bukan purnama cukup menjadi lampu penerang di sepanjang malam. Suhu udara-pun stabil berkisar antara 18 – 22 derajat celcius. Konon, menurut teman-teman Faperta dari Universitas Kapuas yang menemani perjalanan kami, kedamaian malam seperti ini akan berubah serius ketika musim penghujan. Limpahan air yang deras ditambah kecepatan angin yang cukup kencang akan menghujam keras tanpa ampun menyelimuti kawasan puncak. Tidak banyak tempat untuk berlindung. Karena rata-rata semuanya hanya tumbuhan semak belukar yang tumbuh subur. Cukup mengerikan sih, karena ketinggian Bukit Kelam masih berada dibawah awan, sehingga curah hujan-pun masih tergolong tinggi dengan intensitas air yang melimpah.

Berbeda dengan sunset, lokasi sunrise hanya bisa ditemukan ketika kita telah sampai di puncak. Untuk mencapai lokasi yang sempurna, kita harus sedikit turun kebawah sekitar 20 menit dari puncak pas. Arahnya berkebalikan dari jalur pendakian. Bangunlah pagi-pagi. Karena pemandangan matahari terbit rasanya terlalu pagi di tempat ini. Matahari akan bergerak naik dari balik Bukit rentab dan bukit Luit seiring dengan pudarnya selimut kabut putih yang memudar perlahan dari sela pepohonan. Amazing! Moment sunrise selalu membuat saya bersyukur masih diberi kesempatan Tuhan untuk bisa menyaksikan salah satu kebesaranNya.

Tips mendaki Bukit Kelam

  1. Jika kamu sudah terbiasa mendaki gunung, kamu akan menemukan sebuah hal yang berbeda ketika mendaki di bukit ini. Hindari melakukan pendakian di siang hari karena bukit Kelam adalah sebuah batu raksasa yang suhunya mudah berubah menjadi panas ketika siang hari. Selain membuat mata silau karena pantulan sinar matahari, dinding batu ini juga memantulkan energy panas luar biasa yang membuat badan kita terasa 2X lebih panas dari suhu normal. Hitunglah berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendaki dari start awal sampai menuju puncak. Hindari siang hari sekitar jam 12 siang sampai dengan jam 3 sore. Di 1/3 ketinggian bukit sudah termasuk area gersang yang jarang tumbuh pohon besar. Hanya bebatuan dan semak belukar yang menjulang setinggi badan.
  2. Pakailah sepatu karet yang lentur dan cukup seret untuk menapakkan kaki di bebatuan. Sepatu gunung yang ber-sol keras sangat tidak dianjurkan. Bawalah air minum yang cukup banyak karena mata air di atas hanya ada di 1 tempat dan itupun kadang kering.
  3. Banyak-banyak berdoa karena jalur pendakian membutuhkan kehati-hatian dan kewaspadaan yang cukup tinggi. Terutama di lokasi tangga besi yang kemiringannya hampir tegak lurus dengan kondisinya yang setengah rusak. Berilah jarak aman antara kamu dan teman-temanmu. Jangan terlalu banyak orang dalam satu tangga. Mending bergantian satu per satu menunggu sampai sudah ada yang mencapai atas,

 

 

Share
error: Content is protected !!