Melestarikan Permainan Tradisional Alu dan Gasing di Kalimantan Barat

Select language : enEnglish

Patut disyukuri bahwa tidak semua wilayah di Indonesia benar – benar melupakan apa yang masih tersisa dari peninggalan jaman dulu. Sebab jika berbicara mengenai permainan lawas, kita akan membandingkan kelebihan dan kekurangannya dengan game yang ada di gadget sekarang ini. Permainan tradisional seperti alu dan gasing tentu lebih disarankan. Tak lain adalah karena para pemain bisa berinteraksi dengan teman di sekitarnya secara langsung. Sangat berbeda dengan permainan game di gadget. Selain komunikasinya satu arah pada benda mati, atau bicara sendiri layaknya orang gila. Sosialita jaman now!

Mengenal apa itu Permainan Tradisional Alu dan Gasing

Ada banyak permainan tradisional di Indonesia. Meski tiap-tiap daerah memiliki permainan yang unik, namun biasanya 1 jenis permainan tradisional ini ada di beberapa daerah dengan nama/sebutan yang berbeda. Tapi meski demikian, fungsi melatih ketangkasan dan kerja sama antar pemain tetap menjadi tujuan utama dari setiap permainan. Dua permainan tradisional yang paling umum di Indonesia adalah permainan Alu dan Gasing.

Asal – Usul Permainan Gasing

Nama permainan gasing bersumber dari peralatan pokok yang digunakan. Permainan gasing ini muncul di kalangan masyarakat Kalimantan barat berkaitan dengan unsur kepercayaan animisme sebelum panen padi. Mereka percaya bahwa permainan gasing akan membuat padi lebih berisi. Tapi jaman sekarang, permainan ini sudah mulai menghilang walau di pelosok desa sekalipun.

Gasing terbuat dari jenis kayu yang memiliki kualitas baik. Dibentuk agak bulat dan mempunyai diameter yang bervariasi. Di bagian atas gasing dibentuk sedikit tonjolan untuk tempat melilitkan tali yang terbuat dari kulit kayu yang dipintal, atau menggunakan benang wol yang tebal. Tujuannya adalah supaya tidak cepat putus ketika digunakan. Panjang tali kurang lebih 2,5 meter. Caranya adalah : Benang dililitkan pada bagian gasing yang menonjol. Kemudian gasing dilempar ke tanah sembari sedikit dihentak agar gasing bisa berputar dengan kencang. Oleh sebab itu, permainan gasing ini harus dilakukan di atas tanah yang datar dan keras agar gasing mudah berputar.

Permainan gasing biasanya dilakukan saat pagi dan sore hari. Terutama untuk mengisi waktu luang. Terkadang juga disemarakkan pada hari besar. Selain berfungsi sebagai penimbul suasana gembira, permainan Gasing memberikan keseruan dimana masing – masing pemain akan berusaha untuk menang. Pada umumnya pesertanya adalah anak-anak. Namun tidak sedikit juga orang dewasa yang ikut serta. Jumlah pemain minimal dua orang atau secara beregu. Sistemnya disebut dengan seraje. Jika hanya ada dua orang saja, maka disebut dengan ganti alu. Permainan gasing akan lebih seru jika dimainkan oleh banyak orang

Permainan Tradisional Alu di Kalimantan Barat

Pertama kali melihat permainan ini ketika saya berkunjung ke desa Tembak yang berjarak 169 km dari kabupaten Sintang. Konon, menurut penuturan warga, jaman dahulu permainan alu sering dimainkan ketika ada warga sekitar yang meninggal dunia. Para warga yang hadir untuk berkabung biasanya cukup banyak. Bahkan warga dari desa tetangga-pun ikut datang untuk berbela sungkawa. Karena tradisi inilah, disaat banyak orang berkumpul akhirnya mereka memainkan permainan alu pada malam hari. Tujuannya simple… menemani keluarga yang sedang berduka sampai upacara pemakaman esok hari.

Sejarah Permainan Rangku Alu

Sejarah permainan Rangku Alu kabarnya berasal dari Nusa Tenggara Timur, namun begitu popular di Kalimantan Barat. Di Nusa Tenggara Timur, permainan Alu biasanya dilakukan ketika masa panen tiba. Berbeda dengan yang ada di Kalimantan barat, permainannya memiliki makna tersendiri. Dimainkan sebagai rasa syukur dan bahagia karena memang sudah ada panen besar.

Peraturan dan cara bermain Alu cukup sederhana. Dimanapun permainan ini dimainkan, aturan cara bermainnya tetap sama saja. Ada dua kelompok yang akan bertanding. Masing-masing terdiri dari 4 orang yang berperan sebagai pemegang bambu. Cara memainkannya adalah : Bambu dibenturkan ke tanah sejajar dengan lebar bahu, kemudian dibenturkan lagi satu dengan yang lain sesuai dengan irama. Seorang dari lawan tanding akan berdiri di tengah dan melompat kiri kanan agar kakinya tidak terjepit bambu. Intinya seperti itu. Agar lebih seru, biasanya permainan alu diiringi oleh music dan tarian. Tempo musik ini digunakan sebagai pedoman seberapa cepat bambu dihentak-hentakkan. Para pemain harus memiliki skill dan juga gerakan kaki yang lincah. Karena semakin lama, tempo musik juga akan dipercepat untuk mengetahui seberapa cepat gerakan kaki lawan menghindar dari jepitan bambu.

Keunikan dua permainan tradisional ini memang cukup seru untuk dilakukan. Setidaknya ada banyak manfaat yang akan diperoleh ketika berkumpul dan bermain bersama. Kerjasama dan aktif bergerak kesana kemari menjadikan anak-anak lebih sehat dan belajar untuk sportif. Kalah menang adalah sebuah hal yang biasa. Dan di desa Tembak, permainan tradisional semacam ini masih dilakukan walau tidak sesering dulu. Melestarikan permainan tradisional Alu dan gasing sama halnya melestarikan budaya Indonesia agar tetap terjaga sampai kapanpun.

error: Content is protected !!