Keseruan Mansai – Mencari Ikan di Sungai

Select language : enEnglish

Setiap daerah memiliki cerita unik tersendiri. Jika di pulau Jawa terkenal dengan kepadatan penduduknya, berbeda dengan yang ada di wilayah Kalimantan Barat. Lebih tepatnya di masyarakat subsuku Dayak di Desa di Ensaid Panjang. Ada kebiasaan masyarakat setempat yang dinamakan mansai, atau aktivitas menangkap ikan menggunakan cara yang berbeda.

Mereka terus mempertahankan adanya tradisi secara turun temurun. Mulai dari tinggal di rumah besar atau rumah betang sampai dengan hal unik lainnya yang terus terasa disana. Apalagi di zaman yang semakin membuat masyarakat menjadi individualis, rumah komunal itu seolah menjadi daya magnet bagi siapa saja untuk berkunjung terutama wisatawan lokal dan juga mancanegara. Mansai mencari ikan di sungai menjadi hal yang diburu juga untuk mendapat pengalaman yang berbeda. Apalagi di wilayah sana memang banyak sekali sungai.

Mengenal Aktivitas Mansai Masyarakat Setempat di Rumah Betang Ensaid Panjang

Sebelum mengenal apa itu mansai, yuk kenali terlebih dahulu bagaimana rumah Betang Ensaid Panjang. Ada di Kabupaten Sintang, kalimantan Barat. Rumah betang ensaid panjang ini menjadi bagian dari kawasan berhutan yang ada di sebelah timur ibukota kecamatan Kelam Permai. Namanya unik, bukan ? Berjarak sekitar 60 km dari ibukota Kabupaten Sintang. Waktu tempuhnya sekitar dua jam perjalanan. Kalau kamu lagi mujur, biasanya ketika ada serombongan tamu yang datang ke Ensaid panjang mereka akan disambut dengan upacara adat penyambutan tamu yang penuh dengan makna. Ada beberapa sesajen dan tarian tradisional ditampilkan sebagai pembuka.

Dari wilayah inilah muncul aktivitas masyarakat yang dikenal dengan nama mansai. Kita menyebutnya memancing ikan. Namun berbeda karena tidak menggunakan pancing dan kail. Mansai ini adalah cara menangkap ikan dengan menggunakan kerajinan anyaman khas kalimantan berbentuk seperti pengki tapi tidak ada tongkat untuk pegangan.

Warga setempat memang kebanyakan tinggal di dekat sungai. Kegiatan utama para ibu adalah membuat kain tenun yang menjadi ciri khas pulau Kalimantan pada umumnya. Maka tak heran jika aktivitas mereka di waktu senggang adalah mansai. Bukan memancing seperti pada umumnya. Mereka akan mengambil ikan segar pada sungai kecil atau disebut kali. Sedikit yang menjualnya. Mereka seringkali menggunakan hasil tangkapan ikannya untuk dimasak. Tidak hanya digoreng saja tetapi ada banyak varian masakan dari hasil tangkapan mansai ini.

Meskipun begitu, ada juga mansai yang biasanya dilakukan dengan berkelompok yang terdiri dari dua orang. Nanti hasil dari mansai ini dibagi sesuai kelompok setelah ikan hasil tangkapannya dijual ke pasar. Mansai ini dilakukan di sungai yang dangkal bahkan peminatnya ternyata juga cukup banyak. Seperti misalnya ikan Bilis dan Seluang. Ikan ini ada di pinggiran sungai berair dangkal. Ikan hasil mansai akan dijual dengan harga sekitar 5 ribu rupiah pertumpuk sekitar 4 ons.

Ada juga warga yang menangkap udang kecil meskipun terbilang jarang. Karena itu udang hanya ada pada waktu tertentu saja. Jika sungai sedang surut dan juga berair keruh maka banyak sekali udang kecil. Namun jika sungai pada kondisi pasang maka hasilnya kebalikannya. Tidak ada udang.

Berbagai Macam Masakan Ikan dari Aktivitas Mansai

Ada banyak macam masakan ikan mansai. Termasuk mereka yang suka sekali dengan olahan ikan, maka di wilayah ini mudah sekali untuk ditemukan. Ikan hasil mansai ini memang terbilang kecil dan memiliki banyak tulang kecil juga. Sulit untuk disantap. Namun jangan salah, tidak semua yang kita lihat itu benar adanya. Kita bisa merasakan olahan ikan hasil mansai yang terasa lezat.

Karena bentuknya yang kecil, ikan hasil mansai ini biasa dimakan seperti camilan. Terutama mereka yang suka sekali dengan rasa gurih akan langsung suka dengan olahan ikan hasil mansai. Tak heran jika masyarakat setempat seringkali menggunakan hasil mansai untuk lauk pauk dan tidak dijual belikan. Tidak hanya digoreng kering saja tetapi ikan mansai ini bisa dimakan menggunakan sambal. Cita rasanya akan begitu sempurna. Terutama untuk anak – anak kecil disana, ikan hasil mansai ini memang cocok dimakan sebagai camilan.

Ada banyak sekali keunikan dan hal – hal yang khas terkait Rumah Betang Ensaid Panjang. Diantaranya ada ritual bejanih yang biasa mereka lakukan untuk menamani ibu-ibu yang sedang menenun di malam hari. Di Kalimantan Barat, mansai menjadi aktivitas warga setempat yang mencuri perhatian. Mereka menjaga kebersihan lingkungan atau ekosistem yang ada di sungai – sungai di sekitar tempat tinggal mereka. Maka dari itu mereka tetap bisa mendapatkan ikan dengan aktivitas mansai.

Ada yang bilang bahwa fasilitas disana tidaklah banyak. Termasuk mendapatkan alat pancing untuk menangkap ikan. Maka dari itu mereka menggunakan cara mansai yang berbeda dengan daerah lainnya. Menangkap dengan cara ini tentu tidak berbahaya dan lebih bersahabat terhadap lingkungan kita. Tidak menggunakan alat berbahaya untuk mendapat ikan.

Kalau kamu punya sedikit waktu, segera jadwalkan liburan ke Kalimantan Barat, lebih tepatnya di Rumah Betang Ensaid Panjang. Adat isitiadat disana masih terus terjaga karena mereka yang tetap mempertahankan aktivitas khas ini. Mansai di Rumah Betang Ensaid Panjang menjadi daya tarik tersendiri. Datang dan dapatkan suasana sejuk karena keindahan alamnya yang masih terus dijaga dengan baik. Kalimantan Barat menyimpan banyak hal unik untuk kita kenali.

error: Content is protected !!