Kedamaian di Rumah Betang Ensaid Panjang

Masyarakat subsuku Dayak Desa di Ensaid Panjang masih mempertahankan tradisi turun-temurun tinggal di rumah besar atau rumah betang. Di zaman yang semakin individualis, rumah komunal itu menjadi magnet bagi wisatawan lokal dan mancanegara.

Rumah Betang Ensaid panjang terletak di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Merupakan kawasan berhutan yang berada di sebelah timur Ibukota Kecamatan Kelam Permai dan berjarak sekitar 60 kilometer (km) dari ibu kota Kabupaten Sintang. Waktu tempuhnya antara satu jam hingga dua jam perjalanan menggunakan kendaraan dikarenakan jalan masuk sepanjang 15 km dari jalan Provinsi ruas Sintang-Kapuas Hulu rusak

Jalan-rusak

Kabupaten Sintang berjarak sekitar 320 km dari Kota Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat. Dari Pontianak menuju Sintang bisa ditempuh dalam waktu 8 hingga 10 jam. Ada bus dan travel yang melayani rute ini. Sintang juga menjadi perlintasan trayek Pontianak – Putussibau di Kabupaten Kapuas Hulu.

Berlatar belakang Gunung Rentap, Rumah Betang Ensaid Panjang berdiri kokoh. Arsitekturnya sederhana, coraknya menampilkan nuansa alam. Hampir semua bahan bangunannya berasal dari alam. Justru karena kesederhanaan itulah, ratusan wisatawan berkunjung ke rumah adat di Desa Ensaid Panjang ini setiap tahunnya. Tak terhitung pula jumlah peneliti yang pernah tinggal dan mendokumentasikan aktivitas sehari-hari masyarakat adat dari suku induk Iban itu.

Jadi, buat kamu yang tinggal di kota dan merasa bosan dengan segala hiruk pikuk perkotaan yang memekakkan telinga, sesekali datanglah kesini. Kamu akan merasakan kedamaian dan udara sejuk yang berhembus sepanjang hari.

Kondisi alamnya, kesederhanaan kehidupan mereka, minimnya fasilitas yang mereka gunakan, sepertinya akan membuatmu bersyukur atas segala yang kamu nikmati selama ini. Sungguh pengalaman yang luar biasa guys…

Anak-kecil

Rumah betang berukuran 118 meter x 17 meter. Rumah panggung ini memiliki tinggi sekitar 12 meter, dengan jarak lantai kayu dan tanah sekitar dua meter. Rumah betang pada mulanya lahir untuk menyesuaikan kebiasaan perang antar suku. Supaya lebih aman, mereka yang berasal dari satu komunitas subsuku memilih tinggal di satu tempat yang sama. Tradisi perang suku dengan pengayauan atau memenggal kepala musuh sudah diakhiri melalui Perjanjian Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah, tahun 1894 yang dihadiri oleh seluruh subsuku Dayak di Kalimantan. Setelah era perang suku, mereka tetap bertahan di rumah betang. Pada masa itu, dengan keterbatasan peralatan, gotong royong merupakan solusi yang tepat bagi pekerjaan berat. Dengan tetap tinggal di satu rumah komunal, mereka bisa dengan mudah berkomunikasi

Kain-tenun-Dayak

Wisatawan bisa tinggal di Rumah Betang Ensaid Panjang untuk merasakan dan melihat langsung keseharian warga adat Dayak Desa. Pengurus adat tidak menetapkan tarif bagi wisatawan yang ingin tinggal di rumah betang. Mereka tidak memiliki budaya memungut bayaran. Dan sampai dengan saat ini, tradisi itu masih di jaga

Kain-khas-Dayak

Kehangatan sambutan warga itulah yang menjadi magnet bagi wisatawan asing. Banyak wisatawan atau peneliti asing yang tinggal lama di rumah betang untuk mengikuti keseharian masyarakat adat itu. Di Rumah Betang Ensaid Panjang, wisatawan juga bisa menyaksikan pembuatan kain tenun secara tradisional atau membelinya secara langsung. Mewarisi kemampuan nenek moyang, sejumlah ibu hingga kini masih aktif menenun. Harga kain tenun sangat beragam, dari Rp 800.000 hingga Rp 2 juta per lembar berdasarkan ukuran. Menenun adalah pekerjaan sampingan kaum ibu. Pekerjaan utama mereka adalah berladang dan menyadap getah karet.

 

Share
error: Content is protected !!