Kain Tenun Ikat, Kerajinan Kalimantan Barat yang Penuh Pesona

Kain tenun ikat merupakan kerajinan Kalimantan Barat yang memiliki motif khas. Seperti apa? Simak catatan perjalanan ini.

Select language : enEnglish

Keindahan alam dan segala keunikan budaya Borneo selalu membuat orang penasaran—termasuk saya. Saking penasarannya, saya memutuskan untuk menjelajahi pulau itu selama dua bulan. Dari sekian banyak pilihan destinasi di Kalimantan, hati saya hanya tertuju pada Ensaid Panjang di Kabupaten Sintang.

Ensaid Panjang—bagi saya—lebih dari sekadar perkampungan suku Dayak. Pasalnya, banyak hal yang bisa disaksikan di tempat ini. Dari mulai keseharian suku Dayak, kekentalan adat, hingga budaya tradisional yang tetap lestari. Salah satunya adalah kerajinan Kalimantan Baratkain tenun ikat khas Dayak Desa (suku induk Dayak Iban). Proses pembuatan kain tenun ikat tersebut membuat saya makin penasaran dengan Ensaid Panjang. Atas dasar motivasi itu,saya pun bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, menuju Bandara Supadio, Pontianak, menggunakan pesawat. Usai tiba di Bandara Supadio, penerbangan diteruskan ke Kabupaten Sintang dengan menumpang pesawat dari maskapai lain. Dari Bandara Supadio di Pontianak, perjalanan ke Kabupaten Sintang hanya memakan waktu 35 menit. Setelah keluar dari bandara, saya segera mencari mobil yang bisa mengantar ke Ensaid Panjang. Tidak sulit kok menemukan kendaraan ke Ensaid Panjang selagi kamu mampu membayar tarifnya sesuai permintaan pengemudi.

Saat perjalanan saya sempat bertanya kepada driver tentang jarak dari Sintang ke Ensaid Panjang. Kata driver jaraknya sekitar 60 kilometer. Yaaa.. kurang lebih satu jam-lah. Ternyata tebakan saya meleset. Kondisi jalan menuju Ensaid Panjang tidak semulus yang saya bayangkan. Sepanjang 15 kilometer dari jalan provinsi ruas Sintang-Kapuas Hulu, jalanan rusak parah. Dengan demikian durasi perjalanan ke Ensaid Panjang menjadi dua setengah jam.

Rumah Bentang dan Para Penenun yang Tekun

Tiba di Ensaid Panjang, saya dibuat terperangah dengan keindahan Rumah Betang—hunian khas Kalimantan Barat. Ukuran panjangnya mencapai 118 meter, lebar 17 meter, serta tinggi 12 meter. Rumah ini memiliki kaki yang berjarak 2 meter dari permukaan tanah; menyerupai bentuk panggung. Tetua adat menyambut kehadiran saya—juga rombongan lainnya—yang baru turun dari kendaraan. Usai melakukan beberapa ritual penerimaan tamu, tetua adat mengajak saya ke dalam rumah Bentang. Lagi-lagi saya dibuat terkesima—rumah itu dihuni 22 kepala keluarga.

Ada satu sisi menarik sepanjang saya mengamati aktivitas di rumah Betang, yakni para wanita yang tekun memintal benang untuk dijadikan kain. Dulu, seluruh proses pemintalan benang dilakukan sendiri. Namun kini mereka harus membeli dari toko karena keturunannya tidak ada yang bisa memintal. Mereka membuat kain tenun ikat khas Kalimantan Barat dengan berbagai motif. Alat tenunnya terbuat dari kayu. Proses pengerjaan satu lembar kain tenun berukuran besar bisa memakan waktu 1-2 bulan atau bahkan sampai 4 bulan.

Awalnya, para perempuan suku Dayak Desa membuat kain tenun untuk mengisi waktu luang. Kadang-kadang kain itu dipakai sebagai bahan pakaian. Tapi sekarang mereka menyediakan waktu khusus karena kerap menerima pesanan. Akhirnya dari sebuah kebiasaan, kemudian menjadi bisnis yang menghasilkan. Selain itu, kegiatan mereka sehari-hari terkadang mencari ikan di sungai atau yang biasa mereka sebut dengan mansai. Alat yang digunakan bukan alat pancing biasa, tetapi semacam menggunakan pengki tapi tidak ada tongkatnya.

Pesona Kain Tenun Ikat yang Membius Mata

Kain tenun ikat sudah dikenal suku Dayak Desa sejak zaman nenek moyang. Pertama kali melihat proses pengerjaan kain ini, saya dibuat kagum dengan tingkat kerumitan motifnya. Menurut salah satu penenun, level kesulitan itulah yang menentukan harga jual kain tenun.

Saat ini harga kain tenun ikat berkisar antara Rp 800.000-2.500.000. Semakin rumit motifnya, harganya semakin mahal. Selain itu, ditentukan juga berdasarkan jenis pewarna yang digunakan. Kalau pakai pewarna toko, harganya bisa lebih murah.

Terlepas dari soal harga, pesona kain tenun ikat memang tiada duanya. Saya melihat ada empat macam warna utama dari kerajinan tersebut, yaitu merah, kuning, hitam, dan putih. Para penenun menggunakan pewarna alami agar tahan lama. Semisal warna kuning; sumbernya diambil dari kunyit atau merah dari buah mengkudu. Kegiatan menenun ini praktis hanya dilakukan di siang hari. Tetapi jika memang harus dikerjakan malam hari, biasanya mereka melakukannya beramai-ramai sembari mengadakan ritual Bejanih atau mendongeng. Menurut saya, ritual ini sedikit mempunyai nilai magis walau sebenarnya tidak terjadi apa-apa.

Ada empat macam tenun ikat berdasarkan tingkat kesulitannya, yaitu tenun kebat, sidan, songket, dan plin slam. Tenun kebat memiliki ciri motif berbentuk bunga, manusia, serta naga. Biasanya dibalut warna dasar cokelat corak putih. Untuk menyelesaikan satu tenun kebat butuh waktu satu bulan.

Jenis kedua adalah kain tenun sidan—yang bermotif bunga dan orang. Level kerumitannya lebih tinggi ketimbang tenun kebat. Karena itu, penenun membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk menyelesaikan satu lembar kain. Jenis tenun songket tidak kalah menarik; motifnya bervariasi dan unik. Warna dasarnya lebih beragam dengan corak dasar berupa bunga, naga, manusia atau kombinasi. Dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi, satu lembar tenun songket dikerjakan hingga empat bulan.

Terakhir, yakni kain tenun ikat jenis plin slam. Corak kain tersebut sangat rumit sehingga waktu pengerjaannya lebih dari enam bulan. Konon, hanya perempuan dari generasi lanjut usia yang mampu menyelesaikan kain tenun plin slam. Kain tenun ikat merupakan bukti kekayaan budaya Kalimantan Barat yang tidak pernah sirna meskipun zaman berganti. Kerajinan Kalimantan Barat tersebut senantiasa berinovasi, tanpa harus terlarut dalam tren saat ini.

error: Content is protected !!