Berkunjung ke Keraton Darajuanti dan Masjid Jamik Sultan Nata

Pernahkah kamu mendengar Keraton Sintang Darajuanti dan Masjid Jamik Sultan Nata? Dua tempat ini memang memiliki nilai sejarah dan nilai budaya yang tinggi

Mengenal Keraton Darajuanti, kabupaten Sintang

Selain disebut sebagai keraton Sintang, ada juga yang menyebutnya Senentang, sebuah kerajaan Islam dengan Istana Al Mukaramah yang ada di tepi Sungai Kapuas. Istana ini kabarnya dibangun tahun 39 yang sampai sekarang masih berdiri kokoh dan seringkali dijadikan sebagai objek wisata. Keraton Sintang adalah kerjaan hindu yang beralih menjadi kerajaan Islam di kalimantan barat

Penguasa dari kerajaan ini adalah Panembahan Sintang. Tokoh utamanya ialah Aji Melayu. Ia pernah pergi ke daerah Kujau yang menjadi pusat kerajaan Hindu pada masanya. Sepulangnya dari perantauan, Aji melayu membawa ajaran hindu ke daerah dimana ia lahir. Waktu itulah berdiri kerajaan hindu yang ada di Sepauk. Bukti sejarahnya adalah patung yang terbuat dari perunggu dan berbentuk Dewa bertangan empat. Patung ini diyakini sebagai patung Siwa yaitu dewa dalam agama Hindu yang ada di Desa Temian Empakan dan di Kecamatan Sepauk.

Penguasa terakhir dari keraton Sintang ini adalah Pangeran Agung yang menganut Islam. Rakyat yang sebelumnya menganut ajaran Hindu dan Animisme kemudian beralih untuk memeluk agama Islam. Ini merupakan babak baru dari kesultanan Sintang yang menganut ajaran Islam. Sepeninggal dari Pangeran Agung, putra dari beliau yang bernama Pangeran Tunggal dinobatkan sebagai Raja di Keraton Sintang yang ke XVIII.

Kondisi Keraton Sintang Darajuanti dan Masjid Jamik Sultan Nata

Pada masa pemerintahan Raden Abdul Bachri Danu Perdana, dibangunlah beberapa infrastruktur di dalam keraton sintang. Ada gedung istana Al Mukarramah yang dibangun oleh arsitek dari Belanda dan menggunakan struktur dari rangka kayu. Namun untuk pondasi tetap menggunakan pondasi tiang dan bersepatu beton. Atap dari pondasi ini adalah sirap kayu belian dan juga memiliki plafon dari semen asbes. Dinding dari istana kabarnya memiliki semen setebal kurang lebih 3 cm. Hingga saat ini kondisinya masih terawat dengan baik.

Dibagian sebelah barat istana, ada juga bangunan masjid yang memiliki nama Masjid Jamik Sultan Nata Sintang. Bagian depan dari masjid ini merupakan jembatan penyebarangan yang terbuat dari kayu. Jembatan ini menghubungkan masjid serta istana yang memang dipisahkan oleh jalan beraspal. Dibangun dengan tujuan untuk memudahkan raja dan kerabat istana untuk melakukan shalat di masjid tersebut.

Konstruksi dari masjid Sultan Nata dibangun di masa Pangeran Tunggal. Kapasitasnya hanya kurang lebih untuk 50 orang. Sementara perbaikan dan perluasan masjid ini dilakukan oleh penerusnya yakni Sultan Nata pada tahun 1672 M. Tidak hanya bangunan istana dan masjid, kompleks istana Melayu ini terdapat makam raja-raja. Seperti makam Aji Melayu di Desa tanjung Ria, Makam Jubair Irawan I, makam raja pertama Keraton Sintang yang ada di Kelurahan Kapuas kanan Hilir.

Keistimewaan Keraton Sintang Darajuanti dan Masjid Jamik Sultan Nata

Jika dilihat dari tepian sungai Kapuas, landscape Keraton Darajuanti nampak seperti rumah besar yang megah dan anggun. Ada dua bangunan lain yang merupakan pengiring di bagian sisi kanan dan kiri. Sementara bangunan utamanya ada di bagian tengah, dan terletak agak ke depan. Ada serambi depan, serambi belakang, ruang tamu, ruang pribadi Sultan hingga ruangan lainnya.

Sementara untuk bangunan pengiring, yang berada di sisi barat adalah bangunan ruang istirahat dan ruang keluarga. Dan yang disebelah timur dimanfaatkan untuk ruang tidur untuk para tamu. Memiliki luas bangunan sektiar 652 meter persegi, Keraton sintang masih digunakan sebagai rumah pribadi Sultan sampai dengan saat ini. Namun untuk bangunan pengiring yang berada di sebelah barat, digunakan untuk menyimpan benda-benda bersejarah yang masih tersisa. Di sisi timur ada juga ruangan yang digunakan untuk menyimpan foto serta lukisan dari para Raja. Dimanfaatkan pula untuk ruang kelas taman kanak-kanak Darajuanti.

Halaman depan istana nampak begitu luas. Hamparan rumput hijau terbentang lebar dari serambi depan sampai dengan pintu masuk. Keraton Darajuanti dibangun di tepian sungai Kapuas. Bukan tanpa sebab, pada masa itu, sungai merupakan jalan raya yang menghubungkan tempat satu dengan lainnya sehingga memiliki peranan yang cukup vital. Ada dermaga kecil dibagian depan Istana yang sekarang digunakan sebagai tempat berjualan para pedagang karena tempat ini memang asik buat nongkrong sembari menikmati sunset.

error: Content is protected !!