Anyaman, Kerajinan Kalimantan yang Melambangkan Kekayaan Budaya Nusantara

Anyaman merupakan kerajinan Kalimantan yang menjadi manifestasi keagamaan dan simbol kekayaan budaya

Select language : enEnglish

Membuat kerajinan anyaman sebenarnya bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Walau bentuknya terlihat sederhana, tetapi dibutuhkan ketekunan yang mendalam dalam setiap prosesnya. Tidak hanya bisa, tetapi harus juga rapi dan terpola dengan baik. Beberapa bulan lalu, saya menyaksikan sendiri seberapa rumit membuat anyaman—kerajinan Kalimantan—di salah satu daerah di Kalimantan Barat.

Dusun Silit—itulah daerah yang sarat dengan kegiatan membuat kerajinan anyaman. Lokasi dusun Silit berada di sebelah timur ibu kota Kecamatan Sepauk. Dusun Silit terletak di pedalaman Kalimantan Barat. Pastinya, lokasinya sangat jauh karena harus melewati beberapa desa dan kawasan kelapa sawit yang luas sebelum tiba di sana.

Perjalanan menuju dusun Silit cukup memakan waktu. Hal ini dikarenakan akses jalan yang rusak dan belum beraspal. Urutannya seperti ini : Dari Pontianak, kita harus naik pesawat lagi selama kurang lebih 40 menit menuju Bandara Susilo di kabupaten Sintang. Setelah itu kita harus menyewa kendaraan 4×4 untuk bisa menuju ke dusun silit. Tidak semua kendaraan roda empat mampu melewati jalanan menuju kesana. Selain track yang menanjak, rata-rata jalan menuju kesana berupa tanah kuning yang mudah sekali berlumpur jika terkena air hujan. Dari Bandara susilo menuju dusun silit membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan jika musim panas. Tetapi kalau musim hujan, waktu tempuhnya akan lebih lama. Belum lagi kalau mobil sering selip ditengah jalan karena sebagian besar jalannya berlumpur. Perjalanan memang terasa melelahkan. Tapi, setelah sampai di tujuan berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ya, lokasi dusun Silit dikelilingi perbukitan nan hijau dan asri. Hutan-hutannya lebat; ditumbuhi pepohonan besar dan tinggi. Sungai-sungai di sana juga mengalir jernih.

Sepanjang perjalanan, driver banyak bercerita tentang mata pencaharian suku Dayak Seberuang yang menghuni dusun Silit. Konon, mereka suka berburu dan berladang di berbagai tempat di dalam hutan. Namun, kegiatan itu akhirnya dihentikan oleh pemerintah karena dianggap merusak ekosistem hutan. Masyarakat dusun Silit masih memegang teguh adat mereka. Ritual Kikir gigi yang bertujuan sebagai penanda kepada anak gadis yang menginjak dewasa masih sering dilakukan di waktu tertentu. Dan kepada setiap tamu yang mereka anggap penting kehadirannya, mereka juga masih menggunakan adat upacara penerimaan tamu yang memang populer sejak dari jaman dahulu

Anyaman—Kerajinan Kalimantan yang Dilestarikan di Dusun Silit

Setelah lebih dari tiga jam perjalanan, akhirnya kami sampai di tujuan. Tetua adat dan puluhan warga menyambut kami dengan penuh keramahan. Kemudian tetua melakukan semacam ritual penyambutan sambil membaca mantra-mantra dalam bahasa lokal. Semula saya tidak memahami arti lafal mantra itu. Tapi usai dijelaskan oleh tetua adat dalam bahasa Indonesia, saya sedikit tau maknanya.

Hal paling menarik di dusun Silit adalah pemandangan ibu-ibu yang sedang membuat kerajinan anyaman. Mereka menggunakan bahan dasar berupa bambu dan daun pandan hutan atau biasa dikenal dengan sebutan daun perupuk. Material itu biasa ditemukan di tepian sungai sampai ke kampung-kampung.

Karena penasaran, saya menghampiri pengrajin wanita yang usianya sekitar 50-an tahun. Meskipun bahasa Indonesianya tidak lancar, dia mampu menjawab semua pertanyaan. Menurut wanita tersebut, pembuatan kerajinan ini dulunya untuk keperluan sehari-hari.

Mereka menyulapnya menjadi tikar, takin (tas mirip ransel), cupai (tas pinggang), serta tanggui (topi). Ada juga yang dibuat capan atau wadah untuk menampi beras dan alat penangkap ikan (bubu). Untuk menangkap ikan dengan cara tradisional (mansai), mereka juga membuat pemansai dari bahan rotan.

Karena kerajinan anyaman tersebut bentuknya menarik, beberapa wisatawan yang datang berkunjung selalu membeli sebagai souvenir. Bahkan, para tamu memesan beberapa macam kerajinan untuk keperluan berbisnis di kota. Supaya tidak ketinggalan zaman, para pengrajin tersebut berinovasi. Hasil karya mereka dibubuhkan motif khas suku Dayak sehingga terlihat lebih cantik dan unik. Motif inilah yang menjadikan kerajinan anyaman suku Dayak semakin diminati.

Selain pengrajin wanita tersebut, tetua adat juga memberikan informasi mengenai sejarah pembuatan kerajinan anyaman khas Borneo yang mendunia. Berdasarkan keterangannya, pembuatan kerajinan anyaman di dusun Silit menjadi lebih terkoordinir semenjak mereka bekerja sama dengan Universitas Kapuas Raya. Sekelompok mahasiswa pencinta alam dari universitas tersebut membuatkan rumah industri khusus untuk kerajinan anyaman.

Bagi suku Dayak Seberuang, pembuatan kerajinan anyaman lebih dari sekadar budaya Kalimantan. Tapi juga mempunyai makna mendalam yang tersirat selama proses pengerjaannya .Menurut penjelasan ketua adat, pembuatan kerajinan anyaman merupakan manifestasi keagamaan. Setiap prosesnya mengandung unsur seni yang berkaitan erat dengan kepercayaan suku Dayak. Karena itu, hasil anyaman mereka sangat halus dan indah.

Motif Kerajinan Anyaman dari Kalimantan—Pesona Etnik Tanpa Batas

Bicara soal motif anyaman, suku Dayak mampu menciptakan pola yang unik. Semisal kerajinan tikar; kebanyakan berpola papan catur. Namun, para pengrajin dari suku Dayak ini tidak terpatok pada motif itu saja. Mereka berinovasi dengan menciptakan pola tersendiri, seperti pancar walu, daun melancar, dan gigi haruan.

Tikar anyaman khas Kalimantan itu disebut lampit rotan—yang dibuat secara handmade. Meski begitu, alas duduk ini sangat rapi dan kuat. Setiap sisinya dilapisi kulit rotan, yakni tulang walut (belut). Disebut seperti itu karena sepanjang tepi lampit bermotif menyerupai belut. Selain motif tersebut, ada juga beberapa pola yang melambangkan manusia, bunga, buah, atau binatang. Corak seperti ini tidak hanya dipakai untuk lampit rotan, tetapi juga pada kerajinan tas dan pajangan.

Batang garing—berbentuk pohonmerupakan motif paling indah dan sakral ketimbang lainnya. Konon, suku Dayak Kaharingan memercayai pohon itu sebagai sumber kehidupan. Sayang, di dusun Silit sangat jarang yang membuat kerajinan dengan motif itu. Kalaupun ada, hanya dibuat dalam jumlah kecil.

Nah, itulah sekilas cerita perjalanan saya ketika menelusuri proses pembuatan kerajinan Kalimantan berbahan anyaman. Semoga menginspirasi!

error: Content is protected !!